Posts Tagged ‘QURBAN KAMBING : Jenis Ternak Kambing Yang ada di Indonesia’

Qurban Kambing : Jenis Ternak Kambing Yang ada di Indonesia

Jenis-jenis Domba & Kambing serta Perkembangannya

arabian sheep

Jenis Ternak Kambing Yang ada di Indonesia

Tags: goats, kambing asli indonesia, kambing bali, kambing boer, kambing boerawa, kambing etawa, Kambing ettawa,kambing gembrong, kambing jawa randu, kambing kacang, kambing kosta, kambing marica, kambing muara, kambing p.e, kambing peranakan etawa, kambing saanen, kambing samosir, peternakan, sheep, ternak, ternak kambing

aqiqah catering

aqiqah catering

Kambing ternak (Capra aegagrus hircus) adalah subspesies kambing liar yang secara alami tersebar di Asia Barat Daya(daerah “Bulan sabit yang subur” dan Turki) dan Eropa. Kambing merupakan binatang memamah biak yang berukuran sedang. Kambing liar jantan maupun betina memiliki tanduk sepasang, namun tanduk pada kambing jantan lebih besar. Umumnya, kambing mempunyai jenggot, dahi cembung, ekor agak ke atas, dan kebanyakan berbulu lurus dan kasar. Panjang tubuh kambing liar, tidak termasuk ekor, adalah 1,3 meter – 1,4 meter, sedangkan ekornya 12 sentimeter – 15 sentimeter. Bobot yang betina 50 kilogram – 55 kilogram, sedangkan yang jantan bisa mencapai 120 kilogram. Kambing liar tersebar dari Spanyol ke arah timur sampai India, dan dari India ke utara sampai Mongolia dan Siberia. Habitat yang disukainya adalah daerah pegunungan yang berbatu-batu.

Kambing sudah dibudidayakan manusia kira-kira 8000 hingga 9000 tahun yang lalu. Di alam aslinya, kambing hidup berkelompok 5 sampai 20 ekor. Dalam pengembaraannnya mencari makanan, kelompok kambing ini dipimpin oleh kambing betina yang paling tua, sementara kambing-kambing jantan berperan menjaga keamanan kawanan. Waktu aktif mencari makannya siang maupun malam hari. Makanan utamanya adalah rumput-rumputan dan dedaunan.

Kambing berbeda dengan domba.

Perkembangbiakan

Kambing berkembang biak dengan melahirkan. Kambing bisa melahirkan dua hingga tiga ekor anak, setelah buntingselama 150 hingga 154 hari. Dewasa kelaminnya dicapai pada usia empat bulan. Dalam setahun, kambing dapat beranak sampai dua kali.

Jenis-jenis Kambing yang di ternakkan di Indonesia

1. Kambing kacang

Kambing kacang adalah ras unggul kambing yang pertama kali dikembangkan di Indonesia. Badannya kecil. Tinggigumba pada yang jantan 60 sentimeter hingga 65 sentimeter, sedangkan yang betina 56 sentimeter. Bobot pada yang jantan bisa mencapai 25 kilogram, sedang yang betina seberat 20 kilogram. Telinganya tegak, berbulu lurus dan pendek. Baik betina maupun yang jantan memiliki dua tanduk yang pendek.

Kambing kacang merupakan kambing lokal Indonesia, memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap kondisi alam setempat serta memiliki daya reproduksi yang sangat tinggi. Kambing kacang jantan dan betina keduanya merupakan tipe kambing pedaging.

Karakteristik:

  1. Tubuh kambing relatif kecil dengan kepala ringan dan kecil.
  2. telinga pendek dan tegak lurus mengarah ke atas depan.
  3. pada umumnya memiliki warna bulu tungga yakni: putih, hitam dan coklat, serta adakalnya campuran dari ketiganya.
  4. kambing jantan maupun betina meiliki tanduk.
  5. Berat tubuh jantan dewasa dapat mencapai 30 Kg, serta betina dewasa mencapai 25 Kg.
  6. memiliki bulu pendek pada seluruh tubuh, kecuali pada ekor dan dagu, pada kambing jantan juga tumbuh bulu panjang sepanjang garis leher, pundak dan punggung sampai ekor dan pantat.

2.  Kambing Etawa

Kambing Etawa didatangkan dari India yang disebut kambing Jamnapari. Badannya besar, tinggi gumba yang jantan 90 sentimeter hingga 127 sentimeter dan yang betina hanya mencapai 92 sentimeter. Bobot yang jantan bisa mencapai 91 kilogram, sedangkan betina hanya mencapai 63 kilogram. Telinganya panjang dan terkulai ke bawah. Dahi dan hidungnya cembung. Baik jantan maupun betina bertanduk pendek. Kambing jenis ini mampu menghasilkan susu hingga tiga liter per hari. Keturunan silangan (hibrida) kambing Etawa dengan kambing lokal dikenal sebagai sebagai kambing “Peranakan Etawa” atau “PE”. Kambing PE berukuran hampir sama dengan Etawa namun lebih adaptif terhadap lingkungan lokal Indonesia.

3.  Kambing Jawarandu

Kambing Jawarandu merupakan kambing hasil persilangan antara kambing Etawa dengan kambing Kacang. Kambing ini memliki ciri separuh mirip kambing Etawa dan separuh lagi mirip kambing Kacang. Kambing ini dapat menghasilkan susu sebanyak 1,5 liter per hari.

Kambing Jawa Randu memiliki nama lain Bligon, Gumbolo, Koplo dan Kacukan. Merupakan hasil silangan dari kambing peranakan ettawa dengan kambing kacang, sifat fisik kacang lebih dominan. Baik jantan atupun betina merupakan tipe pedaging.

Karakteristik:

  1. Memiliki tubuh lebih kecil dari kambing ettawa, dengan bobot kambing jantan dewasa dapat lebih dari 40 Kg, sedangkan betina dapat mencapai bobot 40 Kg.
  2. Baik jantan maupun betina bertanduk.
  3. Memiliki telinga lebar terbuka, panjang dan terkulai.

4. Kambing Saanen

Kambing Saenen berasal dari Saenen, Swiss. Baik kambing jantan maupun betinanya tidak memliki tanduk. Warna bulunya putih atau krem pucat. Hidung, telinga dan kambingnya berwarna belang hitam. Dahinya lebar, sedangkan telinganya berukuran sedang dan tegak. Kambing ini merupakan jenis kambing penghasil susu.

Berasal dari lembah Saanen Swiss bagian barat. Merupakan jenis kambing terbesar di Swiss. Sulit berkembang di wilayah tropis karena kepekaannya terhadap matahari. Ciri-ciri telinga tegak dan mengarah ke depan, bulu dominan putih, kadang2 ditemui bercak hitam pada hidung, telinga atau ambing. Produksi susu 740 kg/ms laktasi.

Di Indonesi jenis kambing ini di silangkan lagi denga jenis kambing lain yang lebih resisten terhadap cuaca tropis, misalnya dengan jenis etawa.

5.  KAMBING MARICA

Kambing Marica adalah suatu variasi lokal dari Kambing Kacang
Kambing Marica yang terdapat di Provinsi Sulawesi Selatan merupakan salah satu genotipe kambing asli Indonesia yang menurut laporan FAO sudah termasuk kategori langka dan hampir punah (endargement). Daerah populasi kambing Marica dijumpai di sekitar Kabupaten Maros, Kabupaten Jeneponto, Kabupaten Sopeng dan daerah Makassar di Propinsi Sulawesi Selatan. Kambing Marica punya potensi genetik yang mampu beradaptasi baik di daerah agro-ekosistem lahan kering, dimana curah hujan sepanjang tahun sangat rendah. Kambing Marica dapat bertahan hidup pada musim kemarau walau hanya memakan rumput-rumput kering di daerah tanah berbatu-batu.Ciri yang paling khas pada kambing ini adalah telinganya tegak dan relatif kecil pendek dibanding telinga kambing kacang. Tanduk pendek dan kecil serta kelihatan lincah dan agresif.

6.  KAMBING SAMOSIR

Berdasarkan sejarahnya kambing ini dipelihara penduduk setempat secara turun temurun di Pulau Samosir, di tengah Danau Toba, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara. Kambing Samosir pada mulanya digunakan untuk bahan upacara persembahan pada acara keagamaan salah satu aliran kepercayaan aninisme (Parmalim) oleh penduduk setempat. Kambing yang dipersembahkan harus yang berwama putih, maka secara alami penduduk setempat sudah selektif untuk memelihara kambing mereka mengutamakan yang berwarna putih. Kambing Samosir ini bisa menyesuaikan diri dengan kondisi ekosistem lahan kering dan berbatu-batu, walaupun pada musim kemarau biasanya rumput sangat sulit dan kering. Kondisi pulau Samosir yang topografinya berbukit, ternyata kambing ini dapat beradaptasi dan berkembang biak dengan baik.

Penelitian terhadap kambing spesifik lokal yang ada di Kabupaten Samosir Sumatera Utara dilakukan untuk mengetahui karakteristik morfologik tubuh. Pengamatan ini dilakukan secara langsung dilapangan melalui pengukuran morfologik tubuh. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif. Dari hasil yang diperoleh karakteristik morfologik tubuh kambing dewasa yaitu rataan bobot badan betina 26,23 kurang lebih 5,27 kg; panjang badan 57,61 kurang lebih 5,33 cm; tinggi pundak 50,65 kurang lebih 5,28 cm; tinggi pinggul 53,22 kurang lebih 5,43 cm; dalam dada 28,67 kurang lebih 4,21 cm dan lebar dada 17,72 kurang lebih 2,13 cm. Berdasarkan ukuran morfologik tubuh, bahwa kambing spesifik lokal Samosir ini hampir sama dengan kambing Kacang yang ada di Sumatera Utara, yang membedakannya terhadap kambing Kacang yaitu penotipe warna tubuh yang dominan putih dengan hasil observasi 39,18% warna tubuh putih dan 60,82% warna tubuh belang putih hitam. Dari warna belang putih hitam didapatkan rataan sebaran warna berdasarkan luasan permukaan tubuh 92,68% kurang lebih 4,23% warna putih dan 7,32 kurang lebih 4,11% warna hitam. Jenis kambing jantan berwarna putih sangat diperlukan untuk acara ritual dan adat kebudayaan setempat (parmalim). Pemberian nama kambing Samosir pada saat ini masih secara lokal dan dikenal dengan nama Kambing Putih atau Kambing Batak. Kata Kunci: Morfologik Tubuh, Spesifik Lokal Samosir

7. KAMBING MUARA

Kambing Muara dijumpai di daerah Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara di Propinsi Sumatera Utara. Dari segi penampilannya kambing ini nampak gagah, tubuhnya kompak dan sebaran warna bulu bervariasi antara warna bulu coklat kemerahan, putih dan ada juga berwarna bulu hitam. Bobot kambing Muara ini lebih besar dari pada kambing Kacang dan kelihatan prolifik. Kambing Muara ini sering juga beranak dua sampai empat sekelahiran (prolifik). Walaupun anaknya empat ternyata dapat hidup sampai besar walaupun tanpa pakai susu tambahan dan pakan tambahan tetapi penampilan anak cukup sehat, tidak terlalu jauh berbeda dengan penampilan anak tunggal saat dilahirkan. Hal ini diduga disebabkan oleh produksi susu kambing relatif baik untuk kebutuhan anak kambing 4 ekor.

8. KAMBING KOSTA

Lokasi penyebaran kambing Kosta ada di sekitar Jakarta dan Propinsi Banten. Kambing ini dilaporkan mempunyai bentuk tubuh sedang, hidung rata dan kadangkadang ada yang melengkung, tanduk pendek, bulu pendek. Kambing ini diduga terbentuk berasal dari persilangan kambing Kacang dan kambing Khasmir (kambing impor). Hasil pengamatan, ternyata sebaran warna dari kambing Kosta ini adalah coklat tua sampai hitam. Dengan presentase terbanyak hitam (61 %), coklat tua (20%), coklat muda (10,2%), coklat merah (5,8%), dan abu-abu (3,4%). Pola warna tubuh umumnya terdiri dari 2 warna, dan bagian yang belang didominasi oleh warna putih.

Kambing Kosta terdapat di Kabupaten Serang, Pandeglang, dan disekitarnya serta ditemukan pula dalam populasi kecil di wilayah Tangerang dan DKI Jakarta.
Selama ini masyarakat hanya mengenal Kambing Kacang sebagai kambing asli Indonesia, namun karena bentuk dan performa Kambing Kosta menyerupai Kambing Kacang, sering sulit dibedakan antara Kambing Kosta dengan Kambing Kacang, padahal bila diamati secara seksama terdapat perbedaan yang cukup signifikan.
Salah satu ciri khas Kambing Kosta adalah terdapatnya motif garis yang sejajar pada bagian kiri dan kanan muka, selain itu terdapat pula ciri khas yang dimiliki oleh Kambing Kosta yaitu bulu rewos di bagian kaki belakang mirip bulu rewos pada Kambing Peranakan Ettawa (PE), namun tidak sepanjang bulu rewos pada Kambing PE dengan tekstur bulu yang agak tebal dan halus. Tubuh Kambing Kosta berbentuk besar ke bagian belakang sehingga cocok dan potensial untuk dijadikan tipe pedaging.
Saat ini populasi Kambing Kosta terus menyusut, walaupun data yang pasti untuk populasi Kambing Kosta tidak diketemukan, namun perkiraan populasinya di Provinsi Banten hanya tinggal ratusan ekor saja (500-700 ekor).

9. KAMBING GEMBRONG

Asal kambing Gembrong terdapat di daerah kawasan Timur Pulau Bali terutama di Kabupaten Karangasem. Ciri khas dari kambing ini adalah berbulu panjang. Panjang bulu sekitar berkisar 15-25 cm, bahkan rambut pada bagian kepala sampai menutupi muka dan telinga. Rambut panjang terdapat pada kambing jantan, sedangkan kambing Gembrong betina berbulu pendek berkisar 2-3 cm. Warna tubuh dominan kambing Gembrong pada umumnya putih (61,5%) sebahagian berwarna coklat muda (23,08%) dan coklat (15,38%). Pola warna tubuh umumnya adalah satu warna sekitar 69,23% dan sisanya terdiri dari dua warna 15,38% dan tiga warna 15,38%. Rataan litter size kambing Gembrong adalah 1,25. Rataan bobot lahir tunggal 2 kg dan kembar dua 1,5 kg. Tingkat kematian prasapih 20%.

Asal usul kambing gembrong belum bisa dipastikan. Ada yang menduga kambing tersebut merupakan persilangan antara kambing Kashmir dengan kambing Turki. Dugaan ini didasarkan pada ciri-ciri fisik kambing yang hampir mirip dengan kambing gembrong.

Dua jenis kambing itu masuk ke Bali dari luar negeri sebagai hadiah untuk seorang bangsawan Bali. Dari persilangan dua kambing itulah kambing gembrong muncul. Kambing itu berkembang hingga beranak pinak. Tetapi, cerita ini juga masih simpang siur. Soal asal usul kambing itu masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

“Kambing gembrong sangat unik. Kambing ini dulunya banyak hidup di daerah pantai di Kabupaten Karangasem. Nelayan sering memotong bulunya yang panjang lalu diikatkan ke kail untuk menangkap ikan,” kata Ketua Yayasan Bali Tekno Hayati yang juga peneliti di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Bali, Suprio Guntoro.

Kajian ilmiah soal “khasiat” bulu kambing itu hingga bisa mengundang ikan datang memang belum diketahui secara persis. Para nelayan setempat berkeyakinan, bulu yang ditaruh dekat kail itu bercahaya hingga mengundang ikan berdatangan.

Ikan yang hiruk pikuk di dekat bulu itu akan tersangkut mata kail yang letaknya tak jauh dari bulu kambing itu. Tanpa pakan, nelayan dengan mudah mendapat ikan. Cara ini sudah dikenal lama dan masih digunakan nelayan setempat.

IHWAL makin punahnya kambing itu diduga disebabkan oleh banyak hal. Ada yang menyebutkan bermula dari kepercayaan nelayan yang berkeyakinan bahwa bila kambing jantan sering dikawinkan dengan kambing betina akan menyebabkan bulunya rontok.

Mereka berusaha mencegah kambing jantan itu mengawini kambing betina agar bulunya tetap lebat. Maklum saja, mereka berusaha mendapatkan bulu itu karena harganya sangat mahal, bahkan hingga mencapai Rp 400.000 per kilogram. Tentu saja nelayan berusaha agar bulu kambing itu tetap lebat.

“Akibatnya regenerasi kambing gembrong ini sangat lambat, hingga sekarang tinggal sedikit. Kita sudah berupaya dengan memberi penyuluhan kepada penduduk bahwa tidak benar kalau sering kawin bisa mengakibatkan bulu rontok,” kata Guntoro.

Upaya penyuluhan terus dilakukan, tetapi masih saja ada masyarakat yang percaya dengan keyakinan itu hingga menyulitkan upaya pelestarian kambing itu. Keyakinan itu masih melekat di kalangan pemilik kambing.

Makin punahnya kambing itu juga diakibatkan desakan ekonomi nelayan setempat. Para nelayan yang umumnya miskin dengan mudah menjual kambing itu ke tukang jagal karena desakan ekonomi. Misalnya ketika anak harus sekolah, mereka terpaksa menjual kambing itu untuk biaya sekolah anak-anak mereka.

Ada juga yang menyebutkan, dengan bulu yang lebat hingga menutup bagian kepala, menjadikan kambing ini mudah punah. Alasannya, kambing ini kesulitan untuk makan akibat mata dan mulutnya tertutup oleh bulu. Kesulitan ini mengakibatkan makanan sulit masuk ke mulut hingga tidak bisa menerima masukan gizi yang memadai. Akibatnya, kambing mudah terserang penyakit hingga mati. Semua penyebab ini mungkin saja saling berkait hingga makin memperparah kepunahan kambing tersebut. Tanpa disadari kambing itu terus berkurang.

UPAYA untuk melestarikan kambing gembrong ini belum dilakukan secara serius. Dari tahun ke tahun belum ada pihak yang mau melestarikan hewan ini, bahkan nyaris terlupakan dan tidak mendapat perhatian.

Pada mulanya, Yayasan Bali Tekno Hayati yang mendapat sponsor dari Yayasan Keanekaragaman Hayati (Kehati) pada tahun 1998-1999 mulai melakukan konservasi. Dengan dana Rp 25 juta, yayasan membeli kambing itu dari nelayan, kemudian menitipkannya.

Mereka yang dititipi berhak mendapat induknya, namun berkewajiban untuk menyerahkan anakannya. Dari anakan ini, yayasan kemudian menitipkannya lagi ke peternak lainnya yang diharapkan agar terus berkembang hingga kambing ini bisa lestari.

Akan tetapi, upaya ini hanya berlangsung dua tahun akibat yayasan kesulitan dana untuk melestarikan kambing itu. Dana dari Kehati hanya dapat digunakan selama dua tahun itu.

Di sisi lain, dengan alasan tertentu akibat desakan ekonomi, kambing-kambing itu tidak terurus dengan baik. Bahkan, peternak juga ada yang menjualnya hingga upaya pelestarian terhambat.

Agar tidak makin punah, Yayasan Bali Tekno Hayati dengan bekerja sama BPTP melokalisasi kambing yang masih menjadi hak yayasan. Sebanyak tujuh ekor kambing akhirnya dipindah dan dipelihara di kebun percobaan BPTP Bali di Desa Sawe, Kabupaten Jembrana.

Dari tujuh ekor itu kini telah beranak menjadi 10 ekor. Kedua lembaga itu kini berusaha melestarikan satwa langka tersebut secara in situ atau di habitatnya, yaitu di Kabupaten Karangasem dan eks situ atau di luar habitatnya.

Mereka juga mencoba menyilangkan dengan kambing peranakan ettawah (PE). Dengan persilangan itu dihasilkan kambing gettah alias gembrong ettawah.

Saat ini, setidaknya terdapat enam induk kambing peranakan ettawah yang mengandung benih gembrong. Persilangan ini salah satunya dilakukan di Desa Bongancina, Kecamatan Bungsubiu, Kabupaten Buleleng. Harapannya, agar kambing gembrong tidak punah.

Upaya pelestarian ini masih jauh dari yang diharapkan. Jumlah kambing itu masih bisa makin berkurang kalau tidak ada upaya serius untuk melestarikannya. Apalagi sebagian besar kambing yang masih hidup berada di tangan peternak atau nelayan yang miskin. Masih banyak dibutuhkan bantuan dan dukungan dari semua pihak agar kambing ini tidak lenyap.

Mengharapkan bantuan pemerintah? Mungkin masih sulit untuk mendapatkan bantuan pemerintah untuk urusan yang satu ini. Pemerintah belum banyak memperhatikan masalah seperti ini. Pemerintah masih sibuk dengan urusan ekonomi dan politik yang belum selesai hingga sekarang.

Siapa tahu ada sponsor yang mau membantu pelestarian kambing yang satu ini. Sayang bila kambing gembrong hilang dari muka Bumi hanya karena kita lalai untuk melestarikannya.

*foto kambing gembrong :: yang kalo dilihat bentuk tubuhnya sudah lebih banyak ciri fisiologis kambing ettawanya*

10.Kambing Boer


Kambing Boer berasal dari Afrika Selatan dan telah menjadi ternak yang ter-registrasi selama lebih dari 65 tahun. Kata “Boer” artinya petani. Kambing Boer merupakan satu-satunya kambing pedaging yang sesungguhnya, yang ada di dunia karena pertumbuhannya yang cepat. Kambing ini dapat mencapai berat dipasarkan 35 – 45 kg pada umur lima hingga enam bulan, dengan rataan pertambahan berat tubuh antara 0,02 – 0,04 kg per hari. Keragaman ini tergantung pada banyaknya susu dari induk dan ransum pakan sehari-harinya. Dibandingkan dengan kambing perah lokal, persentase daging pada karkas kambing Boer jauh lebih tinggi dan mencapai 40% – 50% dari berat tubuhnya

.

Kambing Boer dapat dikenali dengan mudah dari tubuhnya yang lebar, panjang, dalam, berbulu putih, berkaki pendek, berhidung cembung, bertelinga panjang menggantung, berkepala warna coklat kemerahan atau coklat muda hingga coklat tua. Beberapa kambing Boer memiliki garis putih ke bawah di wajahnya. Kulitnya berwarna coklat yang melindungi dirinya dari kanker kulit akibat sengatan sinar matahari langsung. Kambing ini sangat suka berjemur di siang hari.

Gambar anatomy kambing boer

Karkas Kambing Boer

KARAKTERISTIK KAMBING BOER JANTAN


Boer jantan bertubuh kokoh dan kuat sekali. Pundaknya luas dan ke belakang dipenuhi dengan pantat yang berotot. Kambing Boer dapat hidup pada suhu lingkungan yang ekstrim, mulai dari suhu sangat dingin (-25oC) hingga sangat panas (43oC) dan mudah beradaptasi terhadap perubahan suhu lingkungan. Tahan terhadap penyakit. Mereka dapat hidup di kawasan semak belukar, lereng gunung yang berbatu atau di padang rumput. Secara alamiah mereka adalah hewan yang suka meramban sehingga lebih menyukai daun-daunan, tanaman semak daripada rumput.

Kambing Boer jantan dapat menjadi hewan yang jinak, terutama jika terus berada di sekitar manusia sejak lahir, meskipun ia akan tumbuh dengan berat badan 120 – 150 kg pada saat dewasa (umur 2-3 tahun). Mereka suka digaruk dan digosok di bagian belakang telinganya, hingga punggung dan sisi perutnya. Mereka dapat mudah ditangani dengan memegang tanduknya. Mereka dapat juga dilatih dituntun dengan tali. Namun, sebaiknya jangan mendorong bagian depan kepalanya karena mereka akan menjadi agresif.

Boer jantan dapat kawin di bulan apa saja sepanjang tahun. Mereka berbau tajam karena hal ini untuk memikat betina. Seekor pejantan dapat aktif kawin pada umur 7-8 bulan, tetapi disarankan agar satu pejantan tidak melayani lebih dari 8 – 10 betina sampai pejantan itu berumur sekitar satu tahun. Boer jantan dewasa (2 – 3 tahun) dapat melayani 30 – 40 betina. Disarankan agar semua pejantan dipisahkan dari betina pada umur 3 bulan agar tidak terjadi perkawinan yang tidak direncanakan. Seekor pejantan dapat mengawini hingga selama 7 – 8 tahun.

KARAKTERISTIK KAMBING BOER BETINA


Boer betina tumbuh seperti jantan, tetapi tampak sangat feminin dengan kepala dan leher ramping. Ia sangat jinak dan pada dasarnya tidak banyak berulah. Ia dapat dikawinkan pada umur 10 – 12 bulan, tergantung besar tubuhnya. Kebuntingan untuk kambing adalah 5 bulan. Ia mampu melahirkan anak-anak tiga kali dalam dua tahun. Betina umur satu tahunan dapat menghasilkan 1 – 2 anak. Setelah beranak pertama, ia biasanya akan beranak kembar dua, tiga, bahkan empat. Boer induk menghasilkan susu dengan kandungan lemak sangat tinggi yang cukup untuk disusu anak-anaknya. Ketika anaknya berumur 2½ – 3½ bulan induk mulai kering. Boer betina mempunyai dua hingga empat puting, tetapi kadangkala tidak semuanya menghasilkan susu. Sebagai ternak yang kawinnya tidak musiman, ia dapat dikawinkan lagi tiga bulan setelah melahirkan. Birahinya dapat dideteksi dari ekor yang bergerak-gerak cepat disebut “flagging”. Boer betina mampu menjadi induk hingga selama 5 – 8 tahun. Betina dewasa (umur 2-3 tahun) akan mempunyai berat 80 – 90 kg. Boer betina maupun jantan keduanya bertanduk.

PERKAWINAN SILANG DENGAN KAMBING LOKAL

Kambing lokal yang dipelihara di Indonesia berasal dari berbagai varietas kambing jenis perah. Jika Boer jantan dikawinkan dengan kambing lokal, baik secara alam atau dengan inseminasi buatan, hasil persilangannya (F1) yang memiliki 50% Boer sangatlah mengagumkan. Keturunan F1 ini akan membawa kecenderungan genetik yang kuat dari Boer. Besarnya tubuh dan kecepatan pertumbuhannya akan tergantung pada besarnya kambing lokal yang dikawinkan. Tergantung dari ransum pakannya, hasil silangan jantan dapat mencapai berat dipasarkan 35 – 45 kg dalam waktu enam sampai delapan bulan, dengan peningkatan jumlah daging pada karkas lebih banyak dari yang dihasilkan anak kambing lokal dengan umur yang sama. Penting untuk dipahami bahwa protein membentuk otot. Penggunaan jagung, tanaman leguminosa dan rumput lokal merupakan sumber protein alami yang sangat bagus. Pada umur satu minggu, anak kambing harus disediakan pakan dari sumber yang sama dengan induknya. Meskipun mereka masih menyusu induknya, mereka akan mulai makan hijauan pada umur sangat muda. AIR MINUM TERSEDIA SETIAP SAAT ADALAH PENTING baik untuk induk maupun anaknya.

11.Persilangan Kambing Boer dengan Kambing Jawa Randu

12.Kambing Boerawa

Kambing Boerawa merupakan kambing hasil persilangan antara kambing Boer jantan dengan kambing Peranakan Etawah (PE) betina. Ternak hasil persilangan kedua jenis kambing tadi disebut dengan Boerawa yakni singkatan dari kata Boerawa dan Peranakan Etawah. Kambing hasil persilangan ini mulai berkembang dan banyak jumlahnya di Propinsi Lampung khususnya dalam kurun waktu 3 tahun terakhir ini, walaupun upaya persilangan antara kambing Boer dengan kambing lokal telah dilakukan dibeberapa propinsi lainnya seperti Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan.

Timbulnya upaya mengembangkan kambing Boerawa di Lampung, sebenarnya didasari oleh makin rendahnya harga kambing-kambing PE milik kelompok-kelompok tani ternak wilayah Gedong Tataan Lampung Selatan. Selama ini kambing PE lebih banyak dijual sebagai kambing bibit dengan konsumen peternak dari luar propinsi seperti Bengkulu, jambi, Sumatera Barat hingga Aceh, namun entah bagaimana 3 tahun terakhir ini permintaan bibit kambing PE dari lokasi-lokasi tersebut makin berkurang dan oleh pemiliknya banyak dijual sebagai kambing potong. Sebagai kambing potong, nilai jualnya dihargai atau dinilai berdasarkan bobot badannya. Hal itu tentunya merugikan peternak dikarenakan postur tubuh kambing PE tidak banyak memiliki daging yang tebal, namun cenderung kurus dan tinggi. Sehingga pendapatan atau harga yang diterima peternak dirasakan tidak sebanding dengan kualitas ternak yang dijual tersebut. Sebagai kambing bibit, harga kambing PE relatif lebih tinggi jika dibandingkan dengan sebagai kambing potong. Harga jual kambing bibit makin tinggi jika kualitas ternak yang dijual makin bagus.

Turunnya harga ternak kambing sempat menyebabkan menurunnya motivasi kelompok untuk mengembangkan ternaknya. Namun terkadang muncul pertanyaan, mengapa harga jual kambing PE di wilayah tersebut mengalami penurunan ?. Beberapa hal yang mungkin saja menjadi penyebabnya, antara lain : -1) Daerah atau wilayah-wilayah yang selama ini membeli kambing PE bibit tidak lagi membeli dikarenakan sudah mampu menghasilkan kambing PE sendiri sehingga dirasakan tidak atau kurang perlu mendatangkan kambing PE dari luar daerah,. -2) Kualitas kambing PE yang ada di Gedong Tataan kalah bersaing dengan daerah lain, sehingga konsumen lebih memilih mendatangkan kambing dari daerah-daerah tersebut.

Salah satu upaya pemecahan masalah diatas tadi adalah dengan mengembangkan dan mengenalkan kambing potong yang memiliki produksi daging yang lebih tinggi melalui upaya persilangan. Memperhatikan dari hasil penelitian, pengamatan dan lainnya (studi literatur, studi banding), Dinas Peternakan Propinsi Lampung mencoba menghasilkan kambing silangan Boer dengan PE. Latar belakang pemikirannya adalah mendapatkan sifat produksi daging yang tinggi dari kambing Boer dan memperoleh penampilan tubuh yang tinggi dan panjang dari kambing PE, sehingga diharapkan diperoleh kambing yang gempal namun berpostur besar dan tinggi. Selain aspek tersebut, hal lain yang mendasari penggunaan kedua jenis kambing tersebut adalah kemampuan beradaptasi dengan aspek lingkungan yang tinggi.

Upaya mengembangkan ternak kambing hasil persilangan ini mendapat respon yang baik dari peternak maupun dari instansi terkait didaerah. Sejak 2 tahun terakhir, program pengembangan kambing Boerawa banyak dilakukan dibeberapa kabupaten /kota di Lampung. Sebagai contoh Kabupaten Tanggamus telah mencanangkan diri sebagai daerah kambing Boerawa.

Sebagai suatu upaya meningkatkan produktifitas kambing lokal, persilangan untuk menghasilkan kambing Boerawa perlu didukung dan ditindak lanjuti secara terukur. Maksudnya adalah dengan tetap memperhatikan kaidah-kaedah teknis perbibitan ternak sehingga dapat diperoleh kambing persilangan yang benar-benar memiliki performans dan nilai genetik yang tinggi. Persilangan bagaimanapun bentuknya, sebagai suatu cara atau metode perbaikan mutu genetik ternak hendaknya mengacu kepada kaidah-kaidah perbibitan dan pembibitan ternak. Harapannya adalah untuk memperoleh mutu genetik yang lebih unggul dan menghindari hal-hal yang merugikan seperti terjadinya inbreeding dan sebagainya. Hal tersebut tentunya diaplikasikan dalam bentuk tatalaksana pemeliharaan yang baik, sistim perkawinan dan seleksi yang benar hingga penetapan standar/kelas kambing Boerawa.

Selama ini Boerawa diartikan kambing silangan antara pejantan Boer dengan betina PE, batasan apakah harus menggunakan betina PE berkelas ataupun PE jenis rambon belum ditetapkan secara jelas, begitu juga dengan penggunaan istilah Boerawa . Sebutan Boerawa selama ini ditujukan untuk ternak turunan yang jantan saja, entah berasal dari hasil persilangan pertama ataupun hasil backcrossnya. Kedepan nampaknya diperlukan upaya-upaya yang lebih terfokus dalam menyusun rancangan peningkatan mutu genetik secara terukur dan terancang. Arti terancang disini adalah adanya desain ataupun saemacam cetak biru pola atau bentuk dari pemuliaan yang hendak dilakukan, sedangkan terukur dimaksudkan dapat diamati hasil dari upaya tersebut dengan tingkat performance atau kualitas yang lebih baik. Koordinasi dan kerjasama antara beberapa pihak terkait barangkali dapat menghasilkan program yang lebih komprehensif dan aplikatif ( Dinas peternakan, perguruan tinggi dll). Desain, cetak biru ataupun rancangan program pengembangan kambing Boerawa hendaknya disusun dengan tetap mengedepankan kaidah-kaidah pemuliaan, aplikatif dan dapat digunakan sebagai acuan teknis dalam produksi kambing Boerawa di lapangan.

Akhirnya, upaya pengembangan kambing Boerawa di Lampung yang merupakan langkah awal dalam mendorong berkembangnya usaha peternakan bagi petani perlu didukung secara lebih maksimal, tentunya peran pemerintah melalui dinas teknis terkait harus lebih responsif dalam menanganinya melalui program-program yang lebih efektif, berhasil dan berdaya guna.

Jenis-jenis Domba & Kambing serta Perkembangannya

arabian sheep

Jenis Ternak Kambing Yang ada di Indonesia

Tags: goats, kambing asli indonesia, kambing bali, kambing boer, kambing boerawa, kambing etawa, Kambing ettawa,kambing gembrong, kambing jawa randu, kambing kacang, kambing kosta, kambing marica, kambing muara, kambing p.e, kambing peranakan etawa, kambing saanen, kambing samosir, peternakan, sheep, ternak, ternak kambing

Kambing ternak (Capra aegagrus hircus) adalah subspesies kambing liar yang secara alami tersebar di Asia Barat Daya(daerah “Bulan sabit yang subur” dan Turki) dan Eropa. Kambing merupakan binatang memamah biak yang berukuran sedang. Kambing liar jantan maupun betina memiliki tanduk sepasang, namun tanduk pada kambing jantan lebih besar. Umumnya, kambing mempunyai jenggot, dahi cembung, ekor agak ke atas, dan kebanyakan berbulu lurus dan kasar. Panjang tubuh kambing liar, tidak termasuk ekor, adalah 1,3 meter – 1,4 meter, sedangkan ekornya 12 sentimeter – 15 sentimeter. Bobot yang betina 50 kilogram – 55 kilogram, sedangkan yang jantan bisa mencapai 120 kilogram. Kambing liar tersebar dari Spanyol ke arah timur sampai India, dan dari India ke utara sampai Mongolia dan Siberia. Habitat yang disukainya adalah daerah pegunungan yang berbatu-batu.

Kambing sudah dibudidayakan manusia kira-kira 8000 hingga 9000 tahun yang lalu. Di alam aslinya, kambing hidup berkelompok 5 sampai 20 ekor. Dalam pengembaraannnya mencari makanan, kelompok kambing ini dipimpin oleh kambing betina yang paling tua, sementara kambing-kambing jantan berperan menjaga keamanan kawanan. Waktu aktif mencari makannya siang maupun malam hari. Makanan utamanya adalah rumput-rumputan dan dedaunan.

Kambing berbeda dengan domba.

Perkembangbiakan

Kambing berkembang biak dengan melahirkan. Kambing bisa melahirkan dua hingga tiga ekor anak, setelah buntingselama 150 hingga 154 hari. Dewasa kelaminnya dicapai pada usia empat bulan. Dalam setahun, kambing dapat beranak sampai dua kali.

Jenis-jenis Kambing yang di ternakkan di Indonesia

1. Kambing kacang

Kambing kacang adalah ras unggul kambing yang pertama kali dikembangkan di Indonesia. Badannya kecil. Tinggigumba pada yang jantan 60 sentimeter hingga 65 sentimeter, sedangkan yang betina 56 sentimeter. Bobot pada yang jantan bisa mencapai 25 kilogram, sedang yang betina seberat 20 kilogram. Telinganya tegak, berbulu lurus dan pendek. Baik betina maupun yang jantan memiliki dua tanduk yang pendek.

Kambing kacang merupakan kambing lokal Indonesia, memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap kondisi alam setempat serta memiliki daya reproduksi yang sangat tinggi. Kambing kacang jantan dan betina keduanya merupakan tipe kambing pedaging.

Karakteristik:

  1. Tubuh kambing relatif kecil dengan kepala ringan dan kecil.
  2. telinga pendek dan tegak lurus mengarah ke atas depan.
  3. pada umumnya memiliki warna bulu tungga yakni: putih, hitam dan coklat, serta adakalnya campuran dari ketiganya.
  4. kambing jantan maupun betina meiliki tanduk.
  5. Berat tubuh jantan dewasa dapat mencapai 30 Kg, serta betina dewasa mencapai 25 Kg.
  6. memiliki bulu pendek pada seluruh tubuh, kecuali pada ekor dan dagu, pada kambing jantan juga tumbuh bulu panjang sepanjang garis leher, pundak dan punggung sampai ekor dan pantat.

2.  Kambing Etawa

Kambing Etawa didatangkan dari India yang disebut kambing Jamnapari. Badannya besar, tinggi gumba yang jantan 90 sentimeter hingga 127 sentimeter dan yang betina hanya mencapai 92 sentimeter. Bobot yang jantan bisa mencapai 91 kilogram, sedangkan betina hanya mencapai 63 kilogram. Telinganya panjang dan terkulai ke bawah. Dahi dan hidungnya cembung. Baik jantan maupun betina bertanduk pendek. Kambing jenis ini mampu menghasilkan susu hingga tiga liter per hari. Keturunan silangan (hibrida) kambing Etawa dengan kambing lokal dikenal sebagai sebagai kambing “Peranakan Etawa” atau “PE”. Kambing PE berukuran hampir sama dengan Etawa namun lebih adaptif terhadap lingkungan lokal Indonesia.

3.  Kambing Jawarandu

Kambing Jawarandu merupakan kambing hasil persilangan antara kambing Etawa dengan kambing Kacang. Kambing ini memliki ciri separuh mirip kambing Etawa dan separuh lagi mirip kambing Kacang. Kambing ini dapat menghasilkan susu sebanyak 1,5 liter per hari.

Kambing Jawa Randu memiliki nama lain Bligon, Gumbolo, Koplo dan Kacukan. Merupakan hasil silangan dari kambing peranakan ettawa dengan kambing kacang, sifat fisik kacang lebih dominan. Baik jantan atupun betina merupakan tipe pedaging.

Karakteristik:

  1. Memiliki tubuh lebih kecil dari kambing ettawa, dengan bobot kambing jantan dewasa dapat lebih dari 40 Kg, sedangkan betina dapat mencapai bobot 40 Kg.
  2. Baik jantan maupun betina bertanduk.
  3. Memiliki telinga lebar terbuka, panjang dan terkulai.

4. Kambing Saanen

Kambing Saenen berasal dari Saenen, Swiss. Baik kambing jantan maupun betinanya tidak memliki tanduk. Warna bulunya putih atau krem pucat. Hidung, telinga dan kambingnya berwarna belang hitam. Dahinya lebar, sedangkan telinganya berukuran sedang dan tegak. Kambing ini merupakan jenis kambing penghasil susu.

Berasal dari lembah Saanen Swiss bagian barat. Merupakan jenis kambing terbesar di Swiss. Sulit berkembang di wilayah tropis karena kepekaannya terhadap matahari. Ciri-ciri telinga tegak dan mengarah ke depan, bulu dominan putih, kadang2 ditemui bercak hitam pada hidung, telinga atau ambing. Produksi susu 740 kg/ms laktasi.

Di Indonesi jenis kambing ini di silangkan lagi denga jenis kambing lain yang lebih resisten terhadap cuaca tropis, misalnya dengan jenis etawa.

5.  KAMBING MARICA

Kambing Marica adalah suatu variasi lokal dari Kambing Kacang
Kambing Marica yang terdapat di Provinsi Sulawesi Selatan merupakan salah satu genotipe kambing asli Indonesia yang menurut laporan FAO sudah termasuk kategori langka dan hampir punah (endargement). Daerah populasi kambing Marica dijumpai di sekitar Kabupaten Maros, Kabupaten Jeneponto, Kabupaten Sopeng dan daerah Makassar di Propinsi Sulawesi Selatan. Kambing Marica punya potensi genetik yang mampu beradaptasi baik di daerah agro-ekosistem lahan kering, dimana curah hujan sepanjang tahun sangat rendah. Kambing Marica dapat bertahan hidup pada musim kemarau walau hanya memakan rumput-rumput kering di daerah tanah berbatu-batu.Ciri yang paling khas pada kambing ini adalah telinganya tegak dan relatif kecil pendek dibanding telinga kambing kacang. Tanduk pendek dan kecil serta kelihatan lincah dan agresif.

6.  KAMBING SAMOSIR

Berdasarkan sejarahnya kambing ini dipelihara penduduk setempat secara turun temurun di Pulau Samosir, di tengah Danau Toba, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara. Kambing Samosir pada mulanya digunakan untuk bahan upacara persembahan pada acara keagamaan salah satu aliran kepercayaan aninisme (Parmalim) oleh penduduk setempat. Kambing yang dipersembahkan harus yang berwama putih, maka secara alami penduduk setempat sudah selektif untuk memelihara kambing mereka mengutamakan yang berwarna putih. Kambing Samosir ini bisa menyesuaikan diri dengan kondisi ekosistem lahan kering dan berbatu-batu, walaupun pada musim kemarau biasanya rumput sangat sulit dan kering. Kondisi pulau Samosir yang topografinya berbukit, ternyata kambing ini dapat beradaptasi dan berkembang biak dengan baik.

Penelitian terhadap kambing spesifik lokal yang ada di Kabupaten Samosir Sumatera Utara dilakukan untuk mengetahui karakteristik morfologik tubuh. Pengamatan ini dilakukan secara langsung dilapangan melalui pengukuran morfologik tubuh. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif. Dari hasil yang diperoleh karakteristik morfologik tubuh kambing dewasa yaitu rataan bobot badan betina 26,23 kurang lebih 5,27 kg; panjang badan 57,61 kurang lebih 5,33 cm; tinggi pundak 50,65 kurang lebih 5,28 cm; tinggi pinggul 53,22 kurang lebih 5,43 cm; dalam dada 28,67 kurang lebih 4,21 cm dan lebar dada 17,72 kurang lebih 2,13 cm. Berdasarkan ukuran morfologik tubuh, bahwa kambing spesifik lokal Samosir ini hampir sama dengan kambing Kacang yang ada di Sumatera Utara, yang membedakannya terhadap kambing Kacang yaitu penotipe warna tubuh yang dominan putih dengan hasil observasi 39,18% warna tubuh putih dan 60,82% warna tubuh belang putih hitam. Dari warna belang putih hitam didapatkan rataan sebaran warna berdasarkan luasan permukaan tubuh 92,68% kurang lebih 4,23% warna putih dan 7,32 kurang lebih 4,11% warna hitam. Jenis kambing jantan berwarna putih sangat diperlukan untuk acara ritual dan adat kebudayaan setempat (parmalim). Pemberian nama kambing Samosir pada saat ini masih secara lokal dan dikenal dengan nama Kambing Putih atau Kambing Batak. Kata Kunci: Morfologik Tubuh, Spesifik Lokal Samosir

7. KAMBING MUARA

Kambing Muara dijumpai di daerah Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara di Propinsi Sumatera Utara. Dari segi penampilannya kambing ini nampak gagah, tubuhnya kompak dan sebaran warna bulu bervariasi antara warna bulu coklat kemerahan, putih dan ada juga berwarna bulu hitam. Bobot kambing Muara ini lebih besar dari pada kambing Kacang dan kelihatan prolifik. Kambing Muara ini sering juga beranak dua sampai empat sekelahiran (prolifik). Walaupun anaknya empat ternyata dapat hidup sampai besar walaupun tanpa pakai susu tambahan dan pakan tambahan tetapi penampilan anak cukup sehat, tidak terlalu jauh berbeda dengan penampilan anak tunggal saat dilahirkan. Hal ini diduga disebabkan oleh produksi susu kambing relatif baik untuk kebutuhan anak kambing 4 ekor.

8. KAMBING KOSTA

Lokasi penyebaran kambing Kosta ada di sekitar Jakarta dan Propinsi Banten. Kambing ini dilaporkan mempunyai bentuk tubuh sedang, hidung rata dan kadangkadang ada yang melengkung, tanduk pendek, bulu pendek. Kambing ini diduga terbentuk berasal dari persilangan kambing Kacang dan kambing Khasmir (kambing impor). Hasil pengamatan, ternyata sebaran warna dari kambing Kosta ini adalah coklat tua sampai hitam. Dengan presentase terbanyak hitam (61 %), coklat tua (20%), coklat muda (10,2%), coklat merah (5,8%), dan abu-abu (3,4%). Pola warna tubuh umumnya terdiri dari 2 warna, dan bagian yang belang didominasi oleh warna putih.

Kambing Kosta terdapat di Kabupaten Serang, Pandeglang, dan disekitarnya serta ditemukan pula dalam populasi kecil di wilayah Tangerang dan DKI Jakarta.
Selama ini masyarakat hanya mengenal Kambing Kacang sebagai kambing asli Indonesia, namun karena bentuk dan performa Kambing Kosta menyerupai Kambing Kacang, sering sulit dibedakan antara Kambing Kosta dengan Kambing Kacang, padahal bila diamati secara seksama terdapat perbedaan yang cukup signifikan.
Salah satu ciri khas Kambing Kosta adalah terdapatnya motif garis yang sejajar pada bagian kiri dan kanan muka, selain itu terdapat pula ciri khas yang dimiliki oleh Kambing Kosta yaitu bulu rewos di bagian kaki belakang mirip bulu rewos pada Kambing Peranakan Ettawa (PE), namun tidak sepanjang bulu rewos pada Kambing PE dengan tekstur bulu yang agak tebal dan halus. Tubuh Kambing Kosta berbentuk besar ke bagian belakang sehingga cocok dan potensial untuk dijadikan tipe pedaging.
Saat ini populasi Kambing Kosta terus menyusut, walaupun data yang pasti untuk populasi Kambing Kosta tidak diketemukan, namun perkiraan populasinya di Provinsi Banten hanya tinggal ratusan ekor saja (500-700 ekor).

9. KAMBING GEMBRONG

Asal kambing Gembrong terdapat di daerah kawasan Timur Pulau Bali terutama di Kabupaten Karangasem. Ciri khas dari kambing ini adalah berbulu panjang. Panjang bulu sekitar berkisar 15-25 cm, bahkan rambut pada bagian kepala sampai menutupi muka dan telinga. Rambut panjang terdapat pada kambing jantan, sedangkan kambing Gembrong betina berbulu pendek berkisar 2-3 cm. Warna tubuh dominan kambing Gembrong pada umumnya putih (61,5%) sebahagian berwarna coklat muda (23,08%) dan coklat (15,38%). Pola warna tubuh umumnya adalah satu warna sekitar 69,23% dan sisanya terdiri dari dua warna 15,38% dan tiga warna 15,38%. Rataan litter size kambing Gembrong adalah 1,25. Rataan bobot lahir tunggal 2 kg dan kembar dua 1,5 kg. Tingkat kematian prasapih 20%.

Asal usul kambing gembrong belum bisa dipastikan. Ada yang menduga kambing tersebut merupakan persilangan antara kambing Kashmir dengan kambing Turki. Dugaan ini didasarkan pada ciri-ciri fisik kambing yang hampir mirip dengan kambing gembrong.

Dua jenis kambing itu masuk ke Bali dari luar negeri sebagai hadiah untuk seorang bangsawan Bali. Dari persilangan dua kambing itulah kambing gembrong muncul. Kambing itu berkembang hingga beranak pinak. Tetapi, cerita ini juga masih simpang siur. Soal asal usul kambing itu masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

“Kambing gembrong sangat unik. Kambing ini dulunya banyak hidup di daerah pantai di Kabupaten Karangasem. Nelayan sering memotong bulunya yang panjang lalu diikatkan ke kail untuk menangkap ikan,” kata Ketua Yayasan Bali Tekno Hayati yang juga peneliti di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Bali, Suprio Guntoro.

Kajian ilmiah soal “khasiat” bulu kambing itu hingga bisa mengundang ikan datang memang belum diketahui secara persis. Para nelayan setempat berkeyakinan, bulu yang ditaruh dekat kail itu bercahaya hingga mengundang ikan berdatangan.

Ikan yang hiruk pikuk di dekat bulu itu akan tersangkut mata kail yang letaknya tak jauh dari bulu kambing itu. Tanpa pakan, nelayan dengan mudah mendapat ikan. Cara ini sudah dikenal lama dan masih digunakan nelayan setempat.

IHWAL makin punahnya kambing itu diduga disebabkan oleh banyak hal. Ada yang menyebutkan bermula dari kepercayaan nelayan yang berkeyakinan bahwa bila kambing jantan sering dikawinkan dengan kambing betina akan menyebabkan bulunya rontok.

Mereka berusaha mencegah kambing jantan itu mengawini kambing betina agar bulunya tetap lebat. Maklum saja, mereka berusaha mendapatkan bulu itu karena harganya sangat mahal, bahkan hingga mencapai Rp 400.000 per kilogram. Tentu saja nelayan berusaha agar bulu kambing itu tetap lebat.

“Akibatnya regenerasi kambing gembrong ini sangat lambat, hingga sekarang tinggal sedikit. Kita sudah berupaya dengan memberi penyuluhan kepada penduduk bahwa tidak benar kalau sering kawin bisa mengakibatkan bulu rontok,” kata Guntoro.

Upaya penyuluhan terus dilakukan, tetapi masih saja ada masyarakat yang percaya dengan keyakinan itu hingga menyulitkan upaya pelestarian kambing itu. Keyakinan itu masih melekat di kalangan pemilik kambing.

Makin punahnya kambing itu juga diakibatkan desakan ekonomi nelayan setempat. Para nelayan yang umumnya miskin dengan mudah menjual kambing itu ke tukang jagal karena desakan ekonomi. Misalnya ketika anak harus sekolah, mereka terpaksa menjual kambing itu untuk biaya sekolah anak-anak mereka.

Ada juga yang menyebutkan, dengan bulu yang lebat hingga menutup bagian kepala, menjadikan kambing ini mudah punah. Alasannya, kambing ini kesulitan untuk makan akibat mata dan mulutnya tertutup oleh bulu. Kesulitan ini mengakibatkan makanan sulit masuk ke mulut hingga tidak bisa menerima masukan gizi yang memadai. Akibatnya, kambing mudah terserang penyakit hingga mati. Semua penyebab ini mungkin saja saling berkait hingga makin memperparah kepunahan kambing tersebut. Tanpa disadari kambing itu terus berkurang.

UPAYA untuk melestarikan kambing gembrong ini belum dilakukan secara serius. Dari tahun ke tahun belum ada pihak yang mau melestarikan hewan ini, bahkan nyaris terlupakan dan tidak mendapat perhatian.

Pada mulanya, Yayasan Bali Tekno Hayati yang mendapat sponsor dari Yayasan Keanekaragaman Hayati (Kehati) pada tahun 1998-1999 mulai melakukan konservasi. Dengan dana Rp 25 juta, yayasan membeli kambing itu dari nelayan, kemudian menitipkannya.

Mereka yang dititipi berhak mendapat induknya, namun berkewajiban untuk menyerahkan anakannya. Dari anakan ini, yayasan kemudian menitipkannya lagi ke peternak lainnya yang diharapkan agar terus berkembang hingga kambing ini bisa lestari.

Akan tetapi, upaya ini hanya berlangsung dua tahun akibat yayasan kesulitan dana untuk melestarikan kambing itu. Dana dari Kehati hanya dapat digunakan selama dua tahun itu.

Di sisi lain, dengan alasan tertentu akibat desakan ekonomi, kambing-kambing itu tidak terurus dengan baik. Bahkan, peternak juga ada yang menjualnya hingga upaya pelestarian terhambat.

Agar tidak makin punah, Yayasan Bali Tekno Hayati dengan bekerja sama BPTP melokalisasi kambing yang masih menjadi hak yayasan. Sebanyak tujuh ekor kambing akhirnya dipindah dan dipelihara di kebun percobaan BPTP Bali di Desa Sawe, Kabupaten Jembrana.

Dari tujuh ekor itu kini telah beranak menjadi 10 ekor. Kedua lembaga itu kini berusaha melestarikan satwa langka tersebut secara in situ atau di habitatnya, yaitu di Kabupaten Karangasem dan eks situ atau di luar habitatnya.

Mereka juga mencoba menyilangkan dengan kambing peranakan ettawah (PE). Dengan persilangan itu dihasilkan kambing gettah alias gembrong ettawah.

Saat ini, setidaknya terdapat enam induk kambing peranakan ettawah yang mengandung benih gembrong. Persilangan ini salah satunya dilakukan di Desa Bongancina, Kecamatan Bungsubiu, Kabupaten Buleleng. Harapannya, agar kambing gembrong tidak punah.

Upaya pelestarian ini masih jauh dari yang diharapkan. Jumlah kambing itu masih bisa makin berkurang kalau tidak ada upaya serius untuk melestarikannya. Apalagi sebagian besar kambing yang masih hidup berada di tangan peternak atau nelayan yang miskin. Masih banyak dibutuhkan bantuan dan dukungan dari semua pihak agar kambing ini tidak lenyap.

Mengharapkan bantuan pemerintah? Mungkin masih sulit untuk mendapatkan bantuan pemerintah untuk urusan yang satu ini. Pemerintah belum banyak memperhatikan masalah seperti ini. Pemerintah masih sibuk dengan urusan ekonomi dan politik yang belum selesai hingga sekarang.

Siapa tahu ada sponsor yang mau membantu pelestarian kambing yang satu ini. Sayang bila kambing gembrong hilang dari muka Bumi hanya karena kita lalai untuk melestarikannya.

*foto kambing gembrong :: yang kalo dilihat bentuk tubuhnya sudah lebih banyak ciri fisiologis kambing ettawanya*

10.Kambing Boer


Kambing Boer berasal dari Afrika Selatan dan telah menjadi ternak yang ter-registrasi selama lebih dari 65 tahun. Kata “Boer” artinya petani. Kambing Boer merupakan satu-satunya kambing pedaging yang sesungguhnya, yang ada di dunia karena pertumbuhannya yang cepat. Kambing ini dapat mencapai berat dipasarkan 35 – 45 kg pada umur lima hingga enam bulan, dengan rataan pertambahan berat tubuh antara 0,02 – 0,04 kg per hari. Keragaman ini tergantung pada banyaknya susu dari induk dan ransum pakan sehari-harinya. Dibandingkan dengan kambing perah lokal, persentase daging pada karkas kambing Boer jauh lebih tinggi dan mencapai 40% – 50% dari berat tubuhnya

.

Kambing Boer dapat dikenali dengan mudah dari tubuhnya yang lebar, panjang, dalam, berbulu putih, berkaki pendek, berhidung cembung, bertelinga panjang menggantung, berkepala warna coklat kemerahan atau coklat muda hingga coklat tua. Beberapa kambing Boer memiliki garis putih ke bawah di wajahnya. Kulitnya berwarna coklat yang melindungi dirinya dari kanker kulit akibat sengatan sinar matahari langsung. Kambing ini sangat suka berjemur di siang hari.

Gambar anatomy kambing boer

Karkas Kambing Boer

KARAKTERISTIK KAMBING BOER JANTAN


Boer jantan bertubuh kokoh dan kuat sekali. Pundaknya luas dan ke belakang dipenuhi dengan pantat yang berotot. Kambing Boer dapat hidup pada suhu lingkungan yang ekstrim, mulai dari suhu sangat dingin (-25oC) hingga sangat panas (43oC) dan mudah beradaptasi terhadap perubahan suhu lingkungan. Tahan terhadap penyakit. Mereka dapat hidup di kawasan semak belukar, lereng gunung yang berbatu atau di padang rumput. Secara alamiah mereka adalah hewan yang suka meramban sehingga lebih menyukai daun-daunan, tanaman semak daripada rumput.

Kambing Boer jantan dapat menjadi hewan yang jinak, terutama jika terus berada di sekitar manusia sejak lahir, meskipun ia akan tumbuh dengan berat badan 120 – 150 kg pada saat dewasa (umur 2-3 tahun). Mereka suka digaruk dan digosok di bagian belakang telinganya, hingga punggung dan sisi perutnya. Mereka dapat mudah ditangani dengan memegang tanduknya. Mereka dapat juga dilatih dituntun dengan tali. Namun, sebaiknya jangan mendorong bagian depan kepalanya karena mereka akan menjadi agresif.

Boer jantan dapat kawin di bulan apa saja sepanjang tahun. Mereka berbau tajam karena hal ini untuk memikat betina. Seekor pejantan dapat aktif kawin pada umur 7-8 bulan, tetapi disarankan agar satu pejantan tidak melayani lebih dari 8 – 10 betina sampai pejantan itu berumur sekitar satu tahun. Boer jantan dewasa (2 – 3 tahun) dapat melayani 30 – 40 betina. Disarankan agar semua pejantan dipisahkan dari betina pada umur 3 bulan agar tidak terjadi perkawinan yang tidak direncanakan. Seekor pejantan dapat mengawini hingga selama 7 – 8 tahun.

KARAKTERISTIK KAMBING BOER BETINA


Boer betina tumbuh seperti jantan, tetapi tampak sangat feminin dengan kepala dan leher ramping. Ia sangat jinak dan pada dasarnya tidak banyak berulah. Ia dapat dikawinkan pada umur 10 – 12 bulan, tergantung besar tubuhnya. Kebuntingan untuk kambing adalah 5 bulan. Ia mampu melahirkan anak-anak tiga kali dalam dua tahun. Betina umur satu tahunan dapat menghasilkan 1 – 2 anak. Setelah beranak pertama, ia biasanya akan beranak kembar dua, tiga, bahkan empat. Boer induk menghasilkan susu dengan kandungan lemak sangat tinggi yang cukup untuk disusu anak-anaknya. Ketika anaknya berumur 2½ – 3½ bulan induk mulai kering. Boer betina mempunyai dua hingga empat puting, tetapi kadangkala tidak semuanya menghasilkan susu. Sebagai ternak yang kawinnya tidak musiman, ia dapat dikawinkan lagi tiga bulan setelah melahirkan. Birahinya dapat dideteksi dari ekor yang bergerak-gerak cepat disebut “flagging”. Boer betina mampu menjadi induk hingga selama 5 – 8 tahun. Betina dewasa (umur 2-3 tahun) akan mempunyai berat 80 – 90 kg. Boer betina maupun jantan keduanya bertanduk.

PERKAWINAN SILANG DENGAN KAMBING LOKAL

Kambing lokal yang dipelihara di Indonesia berasal dari berbagai varietas kambing jenis perah. Jika Boer jantan dikawinkan dengan kambing lokal, baik secara alam atau dengan inseminasi buatan, hasil persilangannya (F1) yang memiliki 50% Boer sangatlah mengagumkan. Keturunan F1 ini akan membawa kecenderungan genetik yang kuat dari Boer. Besarnya tubuh dan kecepatan pertumbuhannya akan tergantung pada besarnya kambing lokal yang dikawinkan. Tergantung dari ransum pakannya, hasil silangan jantan dapat mencapai berat dipasarkan 35 – 45 kg dalam waktu enam sampai delapan bulan, dengan peningkatan jumlah daging pada karkas lebih banyak dari yang dihasilkan anak kambing lokal dengan umur yang sama. Penting untuk dipahami bahwa protein membentuk otot. Penggunaan jagung, tanaman leguminosa dan rumput lokal merupakan sumber protein alami yang sangat bagus. Pada umur satu minggu, anak kambing harus disediakan pakan dari sumber yang sama dengan induknya. Meskipun mereka masih menyusu induknya, mereka akan mulai makan hijauan pada umur sangat muda. AIR MINUM TERSEDIA SETIAP SAAT ADALAH PENTING baik untuk induk maupun anaknya.

11.Persilangan Kambing Boer dengan Kambing Jawa Randu

12.Kambing Boerawa

Kambing Boerawa merupakan kambing hasil persilangan antara kambing Boer jantan dengan kambing Peranakan Etawah (PE) betina. Ternak hasil persilangan kedua jenis kambing tadi disebut dengan Boerawa yakni singkatan dari kata Boerawa dan Peranakan Etawah. Kambing hasil persilangan ini mulai berkembang dan banyak jumlahnya di Propinsi Lampung khususnya dalam kurun waktu 3 tahun terakhir ini, walaupun upaya persilangan antara kambing Boer dengan kambing lokal telah dilakukan dibeberapa propinsi lainnya seperti Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan.

Timbulnya upaya mengembangkan kambing Boerawa di Lampung, sebenarnya didasari oleh makin rendahnya harga kambing-kambing PE milik kelompok-kelompok tani ternak wilayah Gedong Tataan Lampung Selatan. Selama ini kambing PE lebih banyak dijual sebagai kambing bibit dengan konsumen peternak dari luar propinsi seperti Bengkulu, jambi, Sumatera Barat hingga Aceh, namun entah bagaimana 3 tahun terakhir ini permintaan bibit kambing PE dari lokasi-lokasi tersebut makin berkurang dan oleh pemiliknya banyak dijual sebagai kambing potong. Sebagai kambing potong, nilai jualnya dihargai atau dinilai berdasarkan bobot badannya. Hal itu tentunya merugikan peternak dikarenakan postur tubuh kambing PE tidak banyak memiliki daging yang tebal, namun cenderung kurus dan tinggi. Sehingga pendapatan atau harga yang diterima peternak dirasakan tidak sebanding dengan kualitas ternak yang dijual tersebut. Sebagai kambing bibit, harga kambing PE relatif lebih tinggi jika dibandingkan dengan sebagai kambing potong. Harga jual kambing bibit makin tinggi jika kualitas ternak yang dijual makin bagus.

Turunnya harga ternak kambing sempat menyebabkan menurunnya motivasi kelompok untuk mengembangkan ternaknya. Namun terkadang muncul pertanyaan, mengapa harga jual kambing PE di wilayah tersebut mengalami penurunan ?. Beberapa hal yang mungkin saja menjadi penyebabnya, antara lain : -1) Daerah atau wilayah-wilayah yang selama ini membeli kambing PE bibit tidak lagi membeli dikarenakan sudah mampu menghasilkan kambing PE sendiri sehingga dirasakan tidak atau kurang perlu mendatangkan kambing PE dari luar daerah,. -2) Kualitas kambing PE yang ada di Gedong Tataan kalah bersaing dengan daerah lain, sehingga konsumen lebih memilih mendatangkan kambing dari daerah-daerah tersebut.

Salah satu upaya pemecahan masalah diatas tadi adalah dengan mengembangkan dan mengenalkan kambing potong yang memiliki produksi daging yang lebih tinggi melalui upaya persilangan. Memperhatikan dari hasil penelitian, pengamatan dan lainnya (studi literatur, studi banding), Dinas Peternakan Propinsi Lampung mencoba menghasilkan kambing silangan Boer dengan PE. Latar belakang pemikirannya adalah mendapatkan sifat produksi daging yang tinggi dari kambing Boer dan memperoleh penampilan tubuh yang tinggi dan panjang dari kambing PE, sehingga diharapkan diperoleh kambing yang gempal namun berpostur besar dan tinggi. Selain aspek tersebut, hal lain yang mendasari penggunaan kedua jenis kambing tersebut adalah kemampuan beradaptasi dengan aspek lingkungan yang tinggi.

Upaya mengembangkan ternak kambing hasil persilangan ini mendapat respon yang baik dari peternak maupun dari instansi terkait didaerah. Sejak 2 tahun terakhir, program pengembangan kambing Boerawa banyak dilakukan dibeberapa kabupaten /kota di Lampung. Sebagai contoh Kabupaten Tanggamus telah mencanangkan diri sebagai daerah kambing Boerawa.

Sebagai suatu upaya meningkatkan produktifitas kambing lokal, persilangan untuk menghasilkan kambing Boerawa perlu didukung dan ditindak lanjuti secara terukur. Maksudnya adalah dengan tetap memperhatikan kaidah-kaedah teknis perbibitan ternak sehingga dapat diperoleh kambing persilangan yang benar-benar memiliki performans dan nilai genetik yang tinggi. Persilangan bagaimanapun bentuknya, sebagai suatu cara atau metode perbaikan mutu genetik ternak hendaknya mengacu kepada kaidah-kaidah perbibitan dan pembibitan ternak. Harapannya adalah untuk memperoleh mutu genetik yang lebih unggul dan menghindari hal-hal yang merugikan seperti terjadinya inbreeding dan sebagainya. Hal tersebut tentunya diaplikasikan dalam bentuk tatalaksana pemeliharaan yang baik, sistim perkawinan dan seleksi yang benar hingga penetapan standar/kelas kambing Boerawa.

Selama ini Boerawa diartikan kambing silangan antara pejantan Boer dengan betina PE, batasan apakah harus menggunakan betina PE berkelas ataupun PE jenis rambon belum ditetapkan secara jelas, begitu juga dengan penggunaan istilah Boerawa . Sebutan Boerawa selama ini ditujukan untuk ternak turunan yang jantan saja, entah berasal dari hasil persilangan pertama ataupun hasil backcrossnya. Kedepan nampaknya diperlukan upaya-upaya yang lebih terfokus dalam menyusun rancangan peningkatan mutu genetik secara terukur dan terancang. Arti terancang disini adalah adanya desain ataupun saemacam cetak biru pola atau bentuk dari pemuliaan yang hendak dilakukan, sedangkan terukur dimaksudkan dapat diamati hasil dari upaya tersebut dengan tingkat performance atau kualitas yang lebih baik. Koordinasi dan kerjasama antara beberapa pihak terkait barangkali dapat menghasilkan program yang lebih komprehensif dan aplikatif ( Dinas peternakan, perguruan tinggi dll). Desain, cetak biru ataupun rancangan program pengembangan kambing Boerawa hendaknya disusun dengan tetap mengedepankan kaidah-kaidah pemuliaan, aplikatif dan dapat digunakan sebagai acuan teknis dalam produksi kambing Boerawa di lapangan.

Akhirnya, upaya pengembangan kambing Boerawa di Lampung yang merupakan langkah awal dalam mendorong berkembangnya usaha peternakan bagi petani perlu didukung secara lebih maksimal, tentunya peran pemerintah melalui dinas teknis terkait harus lebih responsif dalam menanganinya melalui program-program yang lebih efektif, berhasil dan berdaya guna.

Kambing Beetal

Kambing ini adalah saudara dekatnya Jamnapari, coba perhatikan ciri fisiknya..

Adalah jenis kambing yang ditemuka di Punjab, Pakistan dan India, biasanya berwarna merah atau hitam, telinganya berjumbai, pada Jantan tanduknya memutar ke arah belakang. Keturunannya mirip dengan Jamnapari ( di Indonesia di kenal dengan Etawa )

Jenis ini lebih unggul daripada jamnapari karena lebih produktif dan lebih mudah menyesuaikan diri dengan kondisi agro-ekologi

Warna bulu  kambing beetal (beetal goats)adalah : hitam,coklat atau bercak putih. Wajahnya Cembung tapi tidak menonjol seperti jamnapari. Telinga panjang, datar, terkulai. Jantan dan betina memiliki tanduk. Ekor kecil da tipis. Ambing ( kantong susu ) besar dan berkembang dengan baik, dot berbentuk kerucut besar.

Karakteristik:

Laki-laki dewasa Betina dewasa
Berat badan 59.07 59,07 34.97 34,97
Panjang tubuh 85. 85. 70.42 70,42
Tinggi pada withers 91.60 91,60 77.13 77,13
Dada ketebalan 86.0 86,0 73.7 73,7

Reproduksi:

Hari
Umur pada awalnya 761 761
Kidding interval Kidding interval 368 368
Service period Periode layanan 160 160
Kidding percentage Kidding persentase 176 176
Litter size: (%)
Singles 40.66 40,66
Twins 52.6 52,6
Kembar 6.52 6,52
Quadruplets 0.22 0,22

Leave a Comment

Barbari Goat

December 7, 2009 at 12:47 am (Jenis kambing yang ada di Dunia)
Tags: aoudads, barbari, barbari goat, goat, goats, india goat, kambing barbari

Kambing Barbari

Adalah Jenis kambing yang berkembang biak di Uttar Pradesh dan Punjab, provinsi barat laut India dan Pakistan. Dikembang biakkan sebagai kambing pedaging.

  Breed Characteristics:

Adult males Adult females
Body weight 37.85 22.56
Body length 70.45 58.68
Height at withers 70.67 56.18
Chest girth 75.53 64.3

Conformation: Small animals, with compact body. The orbital bone is quite prominent, so that eyes appear bulging. There is wide variation in coat color, but white with small light brown patches ,is the most typical. Ears are short, tubular, almost double) with the slit opening in front, erect, directed upward and outward. Both sexes have twisted horns, medium in length and directed upward and backward; horn length: 11.17 cm. Bucks have a large thick beard.

Flock structure: The average flock contains 9.25 individuals (2 to 31 ), of which 0.6 adult males, 5.3 adult females and 3.4 young.

Management and feeding: Stationary. Mostly maintained on browsing and grazing stubble of cultivated crops and tree leaves. Cultivated fodders (e.g. berseem, wheat straw) and grains (e.g. maize, barley, millets) are commonly offered. The animals are generally housed in thatched sheds inside the house. Most males are castrated at ages between 7 to 30 days by the open method, with a blade, and are fattened on milk for slaughter on festive occasions.

  Reproduction:

Days
Age at first kidding 648
Kidding interval 348
Service period 70
Kidding percentage (%) 70.2
Litter size: (%)
Singles 49.64
Twins 49.32
Triplets 1.04
Quadruplets

Mortality %:

Pre-weaning 0.87
Adults 0.19

Performance:

Milk
Lactation yield (Kg) 107.120
Lactation length (days) 150.13
Meat (kg.)
At birth 1.739
At weaning 6.661
6 months 7.800
9 months 12.566
12 months 14.517
Hair  (g per year)

Di amerika jenis kambing barbari disebut aoudad

The aoudad (Ammotragus lervia) disebut Barbary “Domba”, tapi tidak benar-benar seekor domba. Mereka datang dari Afrika Utara di Barbary Coast, dan di sanalah mereka mendapatkan nama mereka.

Merata yang aoudad menjembatani jarak biologis antara domba dan kambing, tetapi mereka adalah spesies yang sejati, dan bukan hibrida. Mereka memiliki ciri-ciri dari kedua domba dan kambing, dan protein dalam darah mereka adalah 50% seperti domba dan 50% seperti kambing ‘.

Berat Aoudads Jantan 110pounds – 350 pounds tinggi 36-39 inch, sedangkan betina beratnya mencapai 90-125 pounds dan tingginya lebih pendek 5inch dari yang jantan.

Baik Jantan ataupun betina mempunyai tanduk

Leave a Comment

Bagot Goat

December 7, 2009 at 12:18 am (Jenis kambing yang ada di Dunia)
Tags: bagot, bagot goat, goat, goats, Kambing, kambing bagot, perang salib

Kambing Bagot

 ***lengan barons bagot yang menarik kambing bagot***

Adalah Jenis kambing tertua di Inggris

Kambing ii dibawa asuk ke inggris pada zaman perang salib dari lembah rhone.

Mulai diternakkan secara luas pada tahun 1957

Kambing ini adalah kambing semi liar,  sulit dibedakan dengan domba. Perbedaan nya adalah jika pada kambing ekornya menghadap ke atas sedangka doba ke bawah. Juga pada tanduknya, kambing tanduknya lebih besar dan mengarah ketas, melingkar cenderung melingkar kembali kea rah depan, sedagkan domba tumbuh ke samping kemudian kebelakang.  Jenis Jantannya berjanggut. Dahi kambing cembung sedangkan domba cekung.

Leave a Comment

Australian Cashmere Goat

December 6, 2009 at 11:51 pm (Articles wrote in english)
Tags: australian cashmere goat, cashmere, goat, kambing cashmere, kambing cashmere australia, kambing kasmir,kasmir

Kambing Cashmere Australia

Adalah kambing casmere yang berasal dari Australia.

Diimpor ke Australia pada tahun 1830-1832.

Kemudian mulai dikembang biakkan secara professional mulai tahun 1970an.

Ciri fisiknya tidak ada yg berubah dari angora-cashmere

Leave a Comment

Auckland Island Goat

December 6, 2009 at 11:36 pm (Articles wrote in english)
Tags: auckland, Auckland Island Goat, Kambing, kambing auckland, Kambing pulau auckland

Kambing Pulau Auckland

Kambing jenis ini sudah sangat langka, diperkirakan malah sudah punah.

Pada awal abad ke 19 dikembang biaka sebagai makanan pengelana da korban kapal karam yang berlindung di pulau Auckland. Pada tahun 1970 tinggal seekor saja menurut perkiraan. Sekitar 100 ekor diketemukan di sekitar Port Rose arah timur-utara mainland Auckland. Pada tahun 1986-1987 sekitar 60 ekor di pindahkan ke selandia baru untuk penangkaran. Pada tahun 1999 diperkirakan nasib keturunannya telah punah

Leave a Comment

Argentata Goat

December 6, 2009 at 11:23 pm (Jenis kambing yang ada di Dunia)
Tags: argentata goat, etna goat, goat, goats, Kambing, kambing argentata, kambing asli italia, kambing etna, kambing sisilia

Kambing Argentata dari sekitar Gunung Etna di bagian timur sisilia dan dibesarkan di Provinsi Catania, Messina, Enna dan Palermo. Asal Usul jenis ini sangat tidak dikenal dan sekarang sudah menjadi sangat langka

Namanya yang diterjemahkan Sebagai Argentata Perak diambil dari warna bulunya, yaitu percampuran antara putih dan abu-abu hitam. Jenis kambing ini adalah kambing yang diambil susunya dan secara tradisioal susuna diperah untuk baha pembuatan keju dari timur Sisilia.

Leave a Comment

Arapawa Goat

December 6, 2009 at 11:08 pm (Jenis kambing yang ada di Dunia)
Tags: arapawa, goat, goats, Kambing, kambing arapawa, kambing new zealand

Kambing pulau Arapawa adalah jenis kambing liar, keturunan dari jenis kambing English landrace, jeis kambing inggris yang sudah tidak diketemukan lagi hidup di Inggris. Pada tahun 1970 Beberapa diekspor ke daerah Amerika Utara dan daerah lainnya  untuk dikembang biakkan

Menurut cerita nenek moyang jenis ini yaitu English Landrace dibawa oleh kapten James Cook pada saat menemukan Selandia Baru tahun 1773

Kambing arapawa hidup di pulau Arapawa, New Zealand/Selandia Baru

Di habitat aslinya diperkirakan tinggal 300 ekor saja, Jumlahnya tidak pernah menjadi sangat banyak karena di habitat aslinya menjadi hewan buruan.

Warna bulu kambing jenis  ini ada berbagai macam, seperti pola2 warna putih, cokelat, cokelat dan hitam adalah warna yang umum ditemui. Jantan mempunyai tanduk yang menyapu luas sedangkan betina memiliki tanduk yang mengarah ke belakang.

Karena hidup bebas di alam maka pergeraka mereka lebih lincah da gesit dalam melompat lompat dibandingkan kambing jenis lain, seperti persilangan kucing dan rusa

Leave a Comment

Appenzell Goat

December 6, 2009 at 10:34 pm (Jenis kambing yang ada di Dunia)
Tags: appenzell, appenzell goat, goat, goats, Kambing, kambing appenzell, kambing putih, swiss, switzerland

Kambing Appenzell

Kambing ini berbulu putih dengan  bulu yang panjangnya sedang, memiliki perpaduan anggota tubuh yang baik. Bentuk tubuh yang lebih lebar da lebih kecil dibandingkan kambing saanen. Jantan tingginya berkisar 75-85cm berat 65kg sedangkan betina 70-80cm berat 45kg.

Kambing ini berkembang biak di Negara Swiss, daerah sebara nya sekitar Canton Appenzell, St.Gallen (Togeburg), di Canton Zurich dibiakkan jenis Appenzell yang merupakan hasil dari persilangan antara Appenzell dengan Saanen. Saat ini jumlahya sangat sedikit.

Kandungan Susu pada periode menyusui hamper sama dengan kambing jenis lain yaitu:

700-800kg, Lemak 2,9%, protein 2,7% , durasi laktasi 270 hari,

Leave a Comment

Kambing Anggora

December 5, 2009 at 3:32 am (Jenis kambing yang ada di Dunia)
Tags: anggora, Kambing, kambing anggora, mohair, wol

Kambing jenis ini berasal dari distrik angora di sekitaran asia kecil, kambing jenis ini sudah dikenal sejak zaman nya nabi musa sebelum sejarah alkitab ??? yaitu sekitar 1571-1451 Sebelum masehi.

Perdagangan bulu kambing inipun sudah dimulai sejak awal abad ke 19 dan menjadi komoditas yg berharga pada saat itu.

Rambut/bulu kambing ini dikenal dengan nanama MOHAIR

Pada tahun 1554 Charles V membawa kambing ini ke Eropa. Tahun 1765 diimpor oleh Pemerintah Spanyol, dan 20 tahun setelah itu banyak yang mulai membawanya ke Perancis.

Namun tak satupun yang berhasil dalam mengembang kan usaha import kambing jenis ini dalam periode tersebut. Yang pertama berhasi dalam mengembangkan usaha import adalah Uni Afrika Selatan pada tahun 1838, dan menjadi pengimport MOHAIR terbesar dibawah Amerika Serikat dan Turki.

Ciri paling berharga dari angora dibanding kambing jenis lain adalah nilai MOHAIR yg dipotong. Di AS rata2 berat MOHAIR yg digunting dari tiap ekor kambing adalah sekitar 5.3 ponds, menghasilakn serat dengan panjang antara 12-15cm

Mohair sangat mirip dengan WOL dlm komposisi kimia teteapi tdk memiliki permukaan yg halus Persamaan yg paling mendasar adalah pada seratnya yg kuat dan elastis.

Mohair banyak digunakan sebagai upholstering pembuatan plushes dan bahan-bahan yang mencakup di mana kekuatan, keindahan, dan daya tahan yang diinginkan.

Ciri Fisik

  1. Jantan dan betina bertanduk
  2. Tanduk jantan berbentuk spiral yg ujungnya menjauh dari kepala
  3. Tanduk betina relative lebih kecil dan cenderung tidak berbentuk spiral, biasanya tdk lebih dr 9-10inch
  4. Telinga tebal dan kendur
  5. Bentuk tubuh jantan/betina lebih kecil disbanding kambing jenis lain
  6. Berat jantan berkisar 180-225 pounds , mencapai berat maksimal sebelum umur 5thn
  7. Karakteristik jantan/betina lebih mirip ke domba, walaupun cirri kambing lebih dominan

Leave a Comment

Kambing Anglo-Nubian

December 5, 2009 at 2:16 am (Jenis kambing yang ada di Dunia)
Tags: anglo nubian goat, goat, goats, Kambing, kambing anglo nubian

Nama Lain: Nubia (USA)

Anglo-nubia dikembangkan di Inggris oleh British persilangan kambing dengan kambing dari asal Afrika dan India.

Anglo Nubian merupakan kambing serba guna, berguna untuk daging, susu . Jenis Ini bukan produsen susu yang baik namun memiliki rata-rata yang tinggi kandungan lemak mentega (antara empat dan lima persen. Kambing Anglo Nubian musim kawin nya lebih lama daripada kambing keturunan Swiss sehingga memungkinkan untuk menghasilkan susu sepanjang tahun.

Seperti ada yang paling cocok dari susu kambing bibit untuk kondisi cuaca panas, jenis kambing Nubia Anglo telah digunakan dalam program grading-up di banyak negara-negara tropis untuk meningkatkan produksi susu dan daging keturunan lokal.

Kambing jenis Anglo-Nubian adalah kambing jenis penghasil susu yan membanggakan Janis kambing ini  dinamai Nubia, karena pada awalnya ditemukan di timur laut Afrika. Kambing yang awalnya diimpor dari Afrika, Arab dan India berkaki panjang, kambing yang memiliki beberapa karakteristik yang diinginkan oleh peternak kambing di Inggris. English breeders crossed these imported bucks on the common short-haired does of England prior to 1895 to develop the Anglo-Nubian goat. Peternak Inggris yang mengimpor jenis ini sebelum tahun 1895 untuk mengembangkan Anglo-Nubian kambing. Yang berkembang biak Di Amerika Serikat biasanya disebut sebagai Nubia.

The Anglo-Nubian is regarded as an “aristocratic” appearing goat and has very long, pendulous ears that hang close to the head. Penampilan jenis kambing Anglo-Nubian dianggap sebagai “aristokrat” kaarena telinga yang panjang, terjumbai dan tergantung dekat kepala dan membawa jelas hidung romawi dan selalu berambut pendek.

. Setiap Jenis warna diperkirakan ada dalam jenis kambing ini, tapi hitam, merah atau cokelat adalah warna yang paling umum, apapun yang dapat dibawa kombinasi dengan putih. Biasanya Jantan memiliki rambut yang pendek, terutama di sepanjang punggung dan di paha, daripada yang umum ditemukan di  Swiss.

Ambing Anglo-Nubian adalah luas tetapi kadang-kadang lebih terjumbai daripada keturunan Swiss. Seekor kambing  Betina dewasa harus berdiri paling sedikit 30 inci pada layu dan beratnya 135 ponds atau lebih, sedangkan Jantan  harus berdiri sekurang-kurangnya 35 inci pada layu dan berat setidaknya  175 ponds . Biasanya menghasilkan kadar susu lebih sedikit daripada keturunan Swiss, tapi menghasilkan susu yang lebih tinggi kandungan lemak susu.

. Kepala berkembang biak adalah karakteristik khas, dengan profil wajah di antara mata dan moncongnya yang sangat cembung. Telinga panjang (memperpanjang setidaknya satu inci di luar moncong ketika diadakan rata di wajahlebar dan terjumbai berada dekat dengan kepala di kuil dan suar sedikit keluar dan maju baik di ujung bulat, membentuk sebuah “bel” bentuk.. Telinga tidak tebal, dengan tulang rawan terbentuk dengan baik. . Rambut pendek, halus dan mengilap.

Referensi:

Briggs, Hilton M and DM Briggs. Briggs, Hilton M dan DM Briggs. 1980. 1980. Modern Breeds of Livestock. Modern Breeds of Livestock. Forth Edition, MacMillan Company Forth Edition, MacMillan Company

Mason, IL World Dictionary of Livestock Breeds. Mason, IL World Dictionary Peternakan Breeds. Third Edition. Third Edition. CAB International. CAB International. 1988 1988

Handbook of Australian Livestock, Australian Meat & Livestock Corporation,1989, 3rd Edition Handbook of Australia Ternak, Australia Meat & Peternakan Corporation, 1989, 3rd Edition

Promotional Materials. Promotional Materials. American Dairy Goat Association, PO Box 865, Spindale, NC 28160. American Dairy Goat Association, PO Box 865, Spindale, NC 28.160. Phone: 704-286-3801 Telepon: 704-286-3801

2 Comments

Anatolia Black Goat

December 5, 2009 at 1:31 am (Jenis kambing yang ada di Dunia)
Tags: goats, kambin anatolia, kambin hitam anatolia, Kambing, kambing hitam

Juga Dikenal Sebagai: Kil-Keçi, Adi Keçi, Kara Keçi, Kilgoat, Turki Native

Anatolia Hitam dibesarkan di Turki untuk daging, susu dan seratMereka adalah bagian dari jenis Suriah dan sementara biasanya hitam mereka kadang-kadang terlihat di cokelat, abu-abu atau pied.

Reference: Referensi:

Mason, IL 1996. Mason, IL 1996. A World Dictionary of Livestock Breeds, Types and Varieties. A World Kamus Breeds Ternak, Jenis dan Varietas. Fourth Edition. Fourth Edition. CAB International. CAB International. 273 pp. 273 hlm.

Leave a Comment

Kambing Cashmere/kasmir Amerika

December 5, 2009 at 1:23 am (Jenis kambing yang ada di Dunia)
Tags: cashmere goat, goat, goats, Kambing, kambing amerika, kambing kasmir amerika, kasmir

Cashmere serat raja, yang dihasilkan dari kambing Cashmere rendah. Serat ini sangat mewah bahwa Arc Perjanjian wasiat yang lama dan bertirai berderet dengan itu. Enam puluh persen dari pasokan dunia kasmir diproduksi di Cina dan sisanya dari Turki, Afghanistan, Irak, Iran, Kashmere, Australia dan Selandia Baru. Ini adalah industri baru untuk Amerika Serikat. Kambing Cashmere yang pertama diimpor dari Australia dan Selandia Baru di akhir 1980-an.. Sejak itu beberapa Cashmere peternak dan petani telah memproduksi pembiakan saham untuk memulai industri baru ini di Amerika Serikat.

Cashmere kambing mudah untuk diternakkan. Mereka adalah binatang yang sehat dan hanya membutuhkan perawatan minimal. Mereka tidak termasu kambing yang suka melompat lompat seperti banyak kambing bibit dan pagar standar  anyaman kawat domba akan mudah untuk dipakai sebagai pagar kandang kambing jenis ini. Kandang Minimal adalah semua yang diperlukan untuk rumah mereka karena sifat-sifat insulative mantel ganda mereka, yang ditumpahkan selama musim panas.

Mereka dicukur setahun sekali dan kambing yang tumbuh dewasa penuh akan menghasilkan uang sebanyak £ 2,5 dari bulu domba. Bulu terdiri dari dua jenis serat, kasmir dan rambut lapisan luar. Rata-rata persentase Kasmir berada di kisaran 20%. bulu domba dapat dijual kepada pembeli grosir atau dapat dehaired dan dijual dengan harga eceran untuk pemintal.

Reference: Referensi:

John Harris, Mitchell, NE. John Harris, Mitchell, NE. Internet mail: jharris@hannibal.wncc.cc.ne.us Internet mail: jharris@hannibal.wncc.cc.ne.usKris McGuire, President – Cashmere Producers of America Kris McGuire, Presiden – Cashmere Producers of America

Leave a Comment

Altai Mountain /Uni Soviet – Kambing Altai Mountain /Uni Soviet

December 5, 2009 at 1:05 am (Jenis kambing yang ada di Dunia)
Tags: altai mountain goats, Kambing, kambing altai mountain, kambing gunung, kambing gunung altai, kambing soviet,kambing wol

Altai Mountain

juga Dikenal Oleh: Gornoaltaiiskaya (Rusia)

Kambing Gunung Altai jenis wol kambing terbentuk antara 1944 dan 1982 tentang pertanian kolektif dari Gorno-Altai Otonomi Daerah dari bekas Uni Soviet, padang rumput yang hijau sepanjang tahun.The Altai Mountain adalah hasil Don kambing digunakan untuk perbaikan kambing lokal.

Kambing Gunung Altai seragam dalam warna, ukuran, konformasi dan produksi wol. Mereka tercatat mempunyai kemampuan yang kuat dalam  beradaptasi dengan kondisi parah peternakan luas di dataran tinggi. Mereka memiliki berat yang relatif tinggi dan kualitas daging yang baik dan mampu menggemukkan cepat selama periode musim panas yang singkat.

Kambing Gunung Altai lebih unggul lokal dalam hidup yang berat (5-10 kg lebih) dan wol menghasilkan (3-4 kali lebih). Berat hidup jantan 65-70 kg dan yang betina adalah 41-44 kg. Namun, seperti kambing Altai lokal, mereka matang agak lambat dan tumbuh sampai usia 5-5,5 tahun.

Kambing Gunung Altai (bulu) wol memiliki kualitas teknis yang tinggi dan merupakan komoditas yang berharga untuk industri ringan. Data laboratorium menunjukkan bahwa sebenarnya serat wol panjang dalam silsilah kambing adalah 7,5-10 cm. Diameter rata-rata pada kambing dewasa 16-17 μm dan 15-16 μm pada kambing  muda.. Ada perbedaan jelas antara sisi kehalusan wol dan paha, rambut luar berdiameter 75-90 μm.Konten wol dalam silsilah bulu hewan adalah 65-70%. Keseragaman antara mereka tersebut tidak lebih dari 10%. Wol Hasil panen 600-900 g untuk Jantan  dan 450-600 g untuk betina. Serat panjang 8-9 cm untuk keduanya.

Kelangsungan hidup kambing ini dalam kondisi peternakan luas cukup memuaskan. Sepanjang tahun pemeliharaan di padang rumput yang tidak menyebabkan penurunan kualitas (kekuatan, panjang, kehalusan) dari wol, sebab tumbuh di musim yang menguntungkan dalam hal makan. Untuk Altai Mountain kambing, yang melebihi panjang wol (dengan diameter 16-20 mm) adalah 9-9,5 km. Sebagai perbandingan, Wol kambing Merino hingga 1 / 23 μm dengan diameter dianggap cukup kuat jika panjangnya tidak kurang dari 7 cm.

. Pembibitan dari Gunung Altai kambing diarahkan untuk pembesaran silsilah populasi kambing dan untuk meningkatkan produksi wol dan tinggal berat badan, tanpa kehilangan kemampuan beradaptasi yang baik untuk kondisi khusus di Siberia.

Silsilah kambing juga dipelihara untuk dijual ke peternakan lainnya. Pekerjaan ini dilakukan terutama dalam pertanian kolektifdalam jangka waktu 50 tahun dari Uni Soviet di distrik Agach Kosh- dan di Edigansky negara di kabupaten  Shebalin. Dalam beberapa tahun terakhir ini pertanian negara telah membuat kemajuan tertentu dalam meningkatkan silsilah kambing muda. Populasi kambing meningkat dari 7.700 pada tahun 1970 menjadi 9.900 pada tahun 1983, dan kasmir produksi meningkat dari 2.600 ke 3.840 kg.

Reference: Referensi:

Dmitriez, NG and Ernst, LK (1989) Animal Genetic Resources of the USSR. Dmitriez, NG dan Ernst, LK (1989) Hewan Sumberdaya Genetik Uni Soviet. Animal Production and Health Paper Publ. Produksi dan Kesehatan Hewan Kertas Publ. by FAO , Rome, 517 pp. oleh FAO, Rome, 517 hlm.

Mason, IL 1988. Mason, IL 1988. World Dictionary of Livestock Breeds. Kamus dunia Ternak Breeds. Third Edition. CAB International. Third Edition. CAB International. 348 pp. 348 hlm.

Leave a Comment

Alpines – Kambing Alpines

December 5, 2009 at 12:39 am (Jenis kambing yang ada di Dunia)
Tags: Alpines goat, dairy goat, goats, Kambing, Kambing Alpines, kambing perah, kambing susu

Jenis kambing Perancis-Alpine adalah jenis kambing yang berasal dari Pegunungan Alpen. Alpine kambing dari jenis yang dibawa ke Amerika Serikat dari Perancis di mana mereka telah dipilih untuk jauh lebih besar keseragaman, ukuran, dan produksi daripada yang benar dari kambing yang diambil dari Swiss ke Prancis.

Ukuran dan produksi daripada pola warna telah ditekankan dalam pengembangan Perancis-Alpine. Tidak ada warna yang berbeda telah ditetapkan, dan dapat berkisar dari putih murni melalui nuansa warna coklat kekuningan, abu-abu, cokelat, hitam, merah, menggertak, belang-belang, atau berbagai bayang-bayang atau kombinasi dari warna-warna ini. Kedua jenis kelamin umumnya berambut pendek, tapi biasanya dolar kecoak memiliki rambut panjang sepanjang tulang belakang.Janggut juga dapat ditemukan pada jenis kelamin Jantan . Telinga dalam Alpine harus berukuran sedang, bertekstur halus, dan lebih tegak.

Jenis Alpine Perancis adalah lebih besar dan lebih kurus kambing dan lebih bervariasi dalam ukuran daripada keturunan Swiss. Betina dewasa harus berdiri tidak kurang dari 30 inci pada layu dan harus berat tidak kurang dari 135 pound. Jantan  harus berdiri 34-40 inci pada layu dan berat tidak kurang dari 170 pound. Jenis Perancis-Alpine milkers betina yang sangat baik dan biasanya memiliki besar, baik berbentuk ambing dengan baik ditempatkan dot bentuk yang diinginkan. Sehingga anak kambing sangat mudah menyusu

Prancis-alpine juga disebut sebagai Kambing Susu Alpine dan surat registrasi untuk susu kambing ini menggunakan kedua sebutan dan mereka adalah sama. Dapat beradaptasi dan berkembang biak dalam iklim apapun dengan sangat baik. Wajah lurus.. Sebuah roman hidung, Toggenburg warna dan tanda-tanda, atau semua-putih adalah diskriminasi. Alpine colors are described by using the following terms: Warna alpine dijelaskan dengan menggunakan istilah-istilah berikut:

  • Cou Blanc – (coo blanc) secara harfiah “leher putih” – putih perempat depan dan bagian belakangnya hitam hitam atau abu-abu dengan tanda di kepala.
  • Cou Clair – (coo clair) Secara harfiah “jelas leher” – kuartal depan adalah tan, kunyit, off-putih, atau bayangan abu-abu dengan bagian belakangnya hitam.
  • Cou Noir (coo nwah) secara harfiah “leher hitam” – Black perempat depan dan bagian belakangnya putih.
  • Sundgau – (sundgow) hitam dengan tanda putih seperti bagian bawah bodi mobil, garis-garis wajah, dll
  • Pied – melihat atau berbintik-bintik.
  • Chamoisee – (shamwahzay) cokelat atau teluk – karakteristik tanda-tanda wajah hitam, dorsal stripe, kaki dan kaki dan kadang-kadang Martingale berjalan di atas layu dan turun ke dada. Spelling for male is chamoise. Ejaan untuk laki-laki adalah chamoise.
  • Dua-nada Chamoisee – lampu depan perempat cokelat atau abu-abu dengan bagian belakangnya. Ini bukan cou cou blanc atau clair sebagai istilah-istilah ini disediakan untuk binatang dengan kaki belakang hitam.
  • Broken Chamoisee – chamoisee patah yang solid dengan warna lain dengan menjadi banded atau memercikkan, dll
  • Setiap variasi dalam pola-pola di atas rusak dengan putih harus dijelaskan sebagai pola patah seperti patah cou blanc.

jangan ragu-ragu untuk menghubungi kami

AQIQAHCATERING
Jl. Raya Puspiptek Ampera-Buaran Kodiklat Rt. 10/03 Kelurahan Buaran Kecamatan Serpong kota tangerang selatan
Telp. 021 – 685 45 126, atau
Hp. 081386710238
PIN BB 21E1AC84
Email: info@aqiqahcatering.co.id
Twiter : @aqiqahcatering